Senin, Desember 30, 2013

Tugas Kimia Farmasi

REVIEW KIMIA FARMASI
IDENTIFIKASI DAN UJI LAKTOSA SEBAGAI BAHAN TAMBAHAN PADA OBAT



Oleh:
TRI ASTUTI      (1112018)





AKADEMI KIMIA ANALISIS CARAKA NUSANTARA
JAKARTA
TAHUN 2014



HASIL REVIEW
Di dalam obat ada beberapa bahan penyusun, seperti: bahan aktif dan bahan pembantu. Bahan aktif adalah komponen obat yang akan memberi efek atau aktifitas farmakologis atau efek langsung yang lain pada diagnosis pengobatan, pencegahan atau untuk mengetahui struktur atau fungsi dari tubuh pasien. Yang termasuk bahan aktif obat antara lain: parasetamol, kafein, kloroquine, fosfat dan lain-lain. Serta dalam obat ada bahan pembantu, yaitu zat yang tidak aktif dan hanya berguna sebagai pelengkap komposisi agar khasiat obat dapat maksimal dan lebih ekonomis. Ada beberapa jenis bahan pembantu obat:
a.       Zat pengisi, sebagai pembentuk tablet (Laktosa, Pati, Amilum, Kalsium Laktat Trihidrat, Dekstrosa, dan Selulosa Mikrokristalin)
b.      Zat pengikat, untuk pembentuk granul dalam proses granulasi (Laktosa, Sukrosa, Pati, dan lain-lain)
c.       Zat penghancur, untuk mempermudah hancurnya tablet (Selulosa, Gom, Alginate dan lain-lain)
d.      Zat Adsorben, untuk mengikat sejumlah air dalam keadaan kering (Laktosa, Mg Oksida, Aerosil, dan lain-lain)
e.       Zat pemanis, pemberi rasa manis pada obat (Sukrosa, Sakarim dan Aspartam)
f.       Zat pelican, mempermudah proses pencetakan (Talk dan Mgnesium Stearat)
g.      Zat surfaktan, untuk memepercepat proses penetrasi cairan ke dalam tablet sehingga cepat memberikan efek.
Dalam penelitian ini melakukan analisis Laktosa secara kimia dengan metode spektrofotometri inframerah, spektrofotometri ultraviolet-tampak, karl fischer, polarimeter dan grafimetri kadar abu sulfat.
Seperti yang telah diketahui bahwa keberadaan Laktosa dalam obat berfungsi sebagai zat pengisi, zat pengikat dan zat adsorban, maka Laktosa menjadi bahan penunjang untuk formulasi obat sehingga kualitas dari laktosa harus dijaga agar sesuai dengan standar yang mengacu pada Farmakope Eropa edisi VI tahun 2008.
Dalam penelitian ini sebelum diformulasikan sebagi obat, Laktosa yang diperoleh dari produsen diuji kemurniannya, untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan seperti, pemalsuan pada laktosa atau dicampurkannya dengan bahan lain, karena jika laktosa belum memenuhi standar akan dikembalikan pada produsen dan jika memenuhi standar akan digunakan dalam memformulasikan obat.
Dalam penelitian ini terdapat beberapa metoda pengujian, diantaranya:
a.       Penetuan kadar air dengan Karl Fischer
b.      Penetuan kadar abu Sulfat dengan Gravimetri
c.       Penentuan sudut putar dengan Polarimetri
d.      Pengujian logam berat dengan visual
e.       Pengukuran Absorbansi dengan Spektrofotometri UV-Vis
f.       Mengidentifikasi sampel dengan Spektrofotometri IR
Penjelasan dari beberapa metoda pengujian yag dilakukan:
a.       Pada penetapan kadar abu Sulfat dengan metode Gravimetri, sampel didestruksi dengan cara basah karena menggunakan pelarut asam pekat H2SO4 agar diperoleh bahan yang lebih murni karena sebagian zat pengotor akan larut dalam H2SO4.
b.       Pada penetuan sudut putar optic spesifik dengan metode Polarimetri, seperti kita ketahui untuk dapat menggunakan metode Polarimetri suatu senyawaharus bersifat optic aktif. Laktosa termasuk senyawa optic aktif karena mengandung atom C asimetris (O-β-D-Galaktopiranosil-(1®4)-α-D-Glukopiranosa) dan dapat memutar bidang polarisasi cahaya. Dalam penelitian, sampel ditambahkan ammonia 10%, ammonia yang bersifat asam akan membantu Laktosa untuk terhidrolisis menjadi galaktosa dan glukosa.
c.       Pada uji logam berat dilakukan secara visual, yaitu pengamatan rentang warna berdasarkan deret standar. Metode ini biasanya dikenal denga Kolorimetri.
d.      Pada uji kebasaan menggunakan titrasi asam basa dengan indikator Phenol Ptalein
e.       Pada uji absorbansi dengan metode Spektrofotometri UV-Vis, dalam metode ini membuat deret standar, deret standar larutan ini bertujuan untuk memperlihatkan hasil larutan deret standar yang linier atau tidak. Serta larutan yang dianalisis harus berwarna (membentuk kompleks).
f.       Pada identifikasi dengan spectrum Inframerah, sampel dicampur dengan KBr yang berfungsi sebagai stabilisator dan kemudian dibuat pellet untuk ditembak dengan sinar IR pada spektrofotometri IR ini, hasilnya dibandingkan dengan standar.
Pada identifikasi Sampel Laktosa secara Spektrofotometri IR diperoleh spectrum yang dihasilkan oleh contoh yang dianalisis sesuai dengan standar yang ada. Maka zat yang diidentifikasi benar-benar Laktosa. Karena posisi puncak-puncak pada spectrum contoh adalah sama/mirip dengan posisi puncak-puncak pada spectrum standar Laktosa. Dalam spektrofotometri IR terdapat syarat yaitu nilai perhubungan (correlation) antara hasil spectrum contoh dengan standar bernilai lebih dari 0,9000. Jadi, jika nilai perhubungan semakin mendekati angka 1, maka spectrum contoh yang dihasilkan akan semakin mirip dengan spectrum standar.
Setiap zat mempunyai atom C asimetris berbeda-beda, hal ini disebabkan karena perbedaan kemampuan zat optic aktif untuk memutar bidang polarisasinya sehingga dapat ditetapkan sudut putar jenisnya. Laktosa memiliki atom C – khiral pemutar kanan (Dekstro) yang besar sudut putaran jenisnya antara +54,4 sampai dengan +55,9.
Uji loga berat pada laktosa menggunakan metode Kolorimetri dengan mereaksikannya dengan pereaksi spesifik agar membentuk senyawa berwarna (senyawa kompleks). Standar yangdigunakan adalah Pb, karena logam Pb merupakan salah satu logam berat yang sering terdapat dalam suatu bahan baku. Hasil yang didapat harus dibawah standar karena jika melebihi standar maka logam berbahaya dalam contoh akan menjadi kontaminan dan berbahaya bagi tubuh.
Penetapan kadar abu Sulfat dengan metode Gravimetri berdasarkan selisih bobot sampel sebelum analisis dan setelah analisis. Pada penetapan ini didapat hasil kadar abu Sulfat yang sesuai dengan standar.


            Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah bahan baku tersebut (Laktosa) telah memiliki mutu yang baik setelah dilihat dari parameter yang diujikan telah sesuai dengan standar yang ditetapkan, sehingga bahan baku tersebut dapat diolah lebih lanjut menjadi produk obat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar