Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Minggu, Februari 02, 2014

pengobanan dibalas duka

Cerita ini mengisahkan perjalanan sepasang kekasih yang berakhir dengan duka. Si pria sebut saja Anton dan wanita sebut saja Intan. Anton adalah seorang ang menjadi buta karena sebuah kecelakaan. Sejak ia menjadi buta, ia merasa terasingkan di lingkungannya. Ia merasa tidak ada seorangpun yang memeperhatikan atau menyayanginya. Hingga kemudian hadirlah Intan di kehidupannya. Intan sangat perhatian dan sayang pada Anton. Ia tidak pernah mempermasalahkan kebutaan Anton sebagai suatu kekurangan yang berarti. Ia sungguh-sungguh mencontai Anton dengan tulus. Suatu hari Anton bertanya kepada Intan, “Mengapa kamu begitu menyayangiku?”
                “Hmm, entahlah. Aku tidak pernah tahu alasan mengapa aku begitu menyayangimu, yang aku tahu, aku benar-benar tulus menyayangimu,” jawab Intan dengan senyum manisnya.
                “Tapi aku kan buta. Apa yang bisa aku perbuat untukmu? Apa yang bisa kuberikan buatmu?” Tanya Anton untuk meyakinkan.
                Dengan lembutnya Intan merebahkan kepalanya di dada Anton, “Ton, aku tidak mengharapkan apapun darimu. Buatku, kamu bisa cerita setiap hari dan menyayangiku dengan tulus itu sudah cukup. Aku senang ketika kamu merasa senang.”
                Mendengar jawaban seperti itu, Anton merasa terharu, “Belum pernah ada orang yang begitu menyayangi aku yang buta seperti ini,” Ucap Anton seraya memeluk tubuh gadis yang dicintainya itu sambil membelai rambutnya yang panjang, “Intan, kalau sampai suatu saat nanti aku bisa melihat lagi, aku pasti akan menikahimu. Karena hanya kamulah orang yang dengan tulus menyayangiku.”
                “Benarkan?” Tanya Intan dengan raut muka ceria.
                Dengan penuh kasih saying Anton meyakinkan hati Intan, “Aku janji kalau suatu saat nanti aku bisa melihat, PASTI aku akan menikahimu.”
                Lalu sepasang kekasih itu semakinerat berpelukan, dengan bayangan indah masing-masing tentang masa depan yang indah. Tentang pernikahan yang dinantikan dengan penuh kebahagiaan. Hari-haripun berjalan. Sepasang kekasih inipun semakin erat dan saling menyayangi. Sampai saat yang dinantikan telah tiba, Anton melakukan operasi cangkok mata dan berhasil. Ia mampu melihat lagi. Ia pun tidak sabar untuk menemui kekasihnya Intan. Pergilah ia  mencari Intan, sampai ia berhasil menemukannya. Namun, alangkah terkejutnya ia mengetahui bahwa intan adalah seorang gadis buta. Ia tak bisa menerimanya. Ia pun menolak Intan. Anton telah lupa akan semua janjinya.
                Melihat kenyataan itu hati Intan menjadi hancur, hatinya menangis, sambil meraba ia menghampiri kekasihnya Anton, “Bukannya kamu telah berjanji akan menikah denganku?” Tanya Intan mengingatkan kekasihnya kembali.
                Tapi, Anton menjawabnya dengan ketus dan bimbang, “Emm, ya memang aku pernah berkata begitu, tapi tidak dengan keadaanmu yang seperti ini. Maaf Intan, aku tidak bisa menikah dengan gadis buta sepertimu.  Keinginanku untuk sembuh agar aku bisa menjadi orang normal kembali. Jika orang-orang tahu bahwa istriku nanti adalah orang buta, lalu apa kata mereka nanti?”
                Anton pun pergi meninggalkan Intan yang dirundung kedukaan dan kekecewaan akan kenyataan yang telah menimpa dirinya. Tak kuat menerima perlakuan Anton yang telah menghianatinya, ia bertekat mengakhiri hidupnya dengan menyayat urat nadinya dengan silet.
                Saat Intan ditemukan meninggal, ada sepucuk surat digenggamannya yang ditunjukan untuk kekasihnya Anton.

Dear Anton,
             Memang tidak banyak yang bisa kuberikaan padamu, tidak banyak yang bisa kulakukan untukmu. Namun, aku sungguh-sungguh tulus menyayangimu.
Semoga kedua mataku itu bisa berguna bagimu, bisa membawakan terang dan keceriaan dalam hidupmu kembali….
              Membaca surat itu, Anton merasa sangat menyesal. Dia tidak tahu bahwa orang  yang dengan rela memberikan mata untuk dirinya adalah kekasih yang selama ini mencintainya, menyayanginya dan menjaganya dengan tulus. Namun, penyesalan hanya tinggal penyesalan. Intan yang telah rela berkorban untuk dirinya pun telah pergi. Yang tersisa hanyalah perasaan bersalah yang akan tersimpan sampai mati.

Catatan:


Kadang kala kita tidak boleh melihat sesuatu hanya dengan mata, melainkan juga dengan hati kita. Mata itu sa menipu, namun hati tidak. Kata hati selalu merupakan kejujuran terdalam dalm hidup manusia.

Jumat, Januari 31, 2014

layanilah dengan tulus

Disebuah kotakecil, seorang anak laki-laki 10 tahun masuk ke Coffe Shop hotel dan duduk di meja. Seorang pelayan wanita menghampiri dan memberikan air putih dihadapannya. anak ini kemudian bertanya,
     "Berapa harga satu es krim sundae?"
     "50 sen." Balas si pelayan
Si anak kemudian mengeluarkan isi sakunya dan menghitung koin-koin di kantongnya.
     "wah, kalau es krim yang biasa saja berapa?" Tanya dia lagi.
Orang-orang yang duduk di meja lain sudah mulai banyak dan pelayan ini mulai tidak sabar. "Tiga puluh lima sen." Kata si pelayan sambil uring-uringan.
     "Bu, saya pesan es krim yang biasa saja ya," Ujarnya.
Sang pelayan kemudian membawa es krim tersebut, meletakkan struk dan melengos pergi. Si anak ini kemudian menikmati pesanannya. Setelah itu dia pun pergi. Ketika si pelayan itu kembali untuk membersihkan meja dia tak kuasa menitikan air mata karena haru. Di samping piring kecilnya, ada 5 buah koin 10 sen dan 5 buah koin 1 sen. Ternyata anak itu tidak bisa pesan es krim sundae karena tidak memiliki cukup uang untuk memberi tip yang layak.

Dari cerita di atas, tentu bisa kita mendapat gambaran bahwa setiap orang memiliki kesaamaan hak sehingga janganlah kita melayani orang dengan melihat penampilannya. Beri mereka ketulusan karena andai kata pun kita tidak mendapat imbalan, tentu Tuhan akan mencatat itu sebagai kebaikan

pikirkan sebelum kamu mengeluh

hari ini, sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu, pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.

sebelum kamu mengeluh tidak punya apa-apa, pikirkan tentang seseorang yang harus meminta-minta dijalanan.


sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk, pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk dalam hidupnya.


sebelum kamu mengeluh tentang pasanganmu, pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberi teman hidup.


sebelum kamu mengeluh tentang nasib hidupmu, pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat.


sebelum kamu mengeluh tentang anak-anakmu, pikirkan tentang seseorang yang ingin memiliki anak tetapi dirinya mandul.


sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu yang kotor karena pembantumu lalai, pikirkan tentang orang-orang yang tinggal di jalanan dengan apa adanya.


sebelum kamu mengeluh jauhnya kamu telah menyetir, pikirkan tentang orang yang menempuh jarak sama dengan berjalan.


dan disaat kamu lelah tentang pekerjaanmu, pikirkan tentang pengangguran dan orang-orang cacat yang mencari pekerjaan sepertimu.


sebelum kamu menunjukkan jari telunjukmu untuk menyalahkan orang lain, pikirkanlah bahwa keempat jarimu yang lain menunjuk padamu dan tidak ada orang yang tidak pernah berbuat kesalahan.


jika kamu mampi untuk berfikir dahulu sebelum mengeluh, kamu akan bisa bersyukur kepada Tuhan bahwa kamu masih diberi kehidupan.


Kamis, Januari 30, 2014

miraie

Hora ashimoto wo mite goran
kore ga anata no ayumu michi
hora mae wo mite goran
are ga anata no mirai

haha ga kureta takusan no yasashima

ai wo idaite ayumeto kurikaeshita
ano toki wa mada osanakute imi nado shiranai
donna watashi no te wo nigiri
isshoni ayundekita

yume wa itsumo sora takaku aru kara

todokanakute kawai ne dakedo oitsuzukeru no
jibun no sutori dakara koso akirametakunai
fuan ni naruto te wo nigiri
isshoni ayundekita
sono yasashisa wo toki ni wa iyagari
hanareta haha e sunao ni narezu

hora ashimoto wo mite goran

kore ga anata no ayumu michi
hora mae wo mite goran
are ga anata no mirai

sono yasashisa wo toki niwa iyagari

hanareta haha e sunao ni narezu

hora ashimoto wo mite goran

kore ga anata no ayumu michi
hora mae wo mite goran
are ga anata no mirai

hora ashimoto wo mite goran

kore ga anata no ayumu michi
hora mae wo mite goran
are ga anata no mirai

mirai e mukatte

yukkuri to aruite yuko

(Vanny Chrisma W. -Serra Vonna-)