Senin, Desember 30, 2013

PENETAPAN LINERITAS LIMIT DETEKSI LARUTAN BESI SECARA SPEKTROFOTOMETRI SINAR TAMPAK / VISIBLE

Tujuan:
1.   Mahasiswa menguasai cara – cara pengoperasian spektrofotometer cahaya tampak untuk sampel dengan efek matrik yang bisa diabaikan.
2.  Mahasiswa bisa menetapkan limit deteksi dan bisa membedakan antara kurva kaibrasi dan kurva standar.

Teori dasar
Besi dalam jumlah kecil dapat ditetapkan secara spektrofotometri dengan mengubahnya menjadi senyawa kompleks berwarna. Kemudian absorbansi dari larutan ini ditetapkan pada daerah visible dengan spektrofotometer. Dengan membandingkannya terhadap kurva standar dapat ditentukan kadar besi dalam contoh.
Spektrofotometri visible disebut juga spektrofotometri sinar tampak. Yang dimaksud sinar tampak adalah sinar yang dapat dilihat oleh mata manusia. Cahaya yang dapat dilihat oleh mata manusia adalah cahay dengan panjang gelombang 40-800 nm dan memilikienergi sebesar 299-149 kj/mol.
Elektron pada keadaan normal atau berada pada kulit atom dengan energi terendah disebut keadaan dasar (ground state). Energi yang dimiliki sinar tampak mampu membuat elektron tereksitasi dari keadaan dasarmenuju kulitatom yang memiliki energi lebih tinggi atau menuju keadaan tereksitasi.
Cahaya yang diserap oleh suatu zat berbeda dengan cahaya yang ditangkap oleh mata manusia. Cahaya yang tampak atau cahaya yang dilihat dalam kehidupan sehari-hari disebut warna komplementer. Misalnya suatu zat akan berwarna orange bila menyerap warna biru dari spektrum sinar tampak dan suatu zat akan berwarna hitam bila menyerap semua warna yang terdapat pada spektrum sinar tampak. Untuk lebih jelasnya perhatikan tabel berikut.



Panjang gelombang (nm)
Warna warna yang diserap
Warna komplementer (warna yang terlihat)
400 – 435
Ungu
Hijau kekuningan
435 – 480
Biru
Kuning
480 – 490
Biru kehijauan
Jingga
490 – 500
Hijau kebiruan
Merah
500 – 560
Hijau
Ungu kemerahan
560 – 580
Hijau kekuningan
Ungu
580 – 595
Kuning
Biru
595 – 610
Jingga
Biru kehijauan
610 – 800
Merah
Hijau kebiruan

Pada spektrofotometer sinar tampak sumber cahaya biasanya mengguanakan lampu tungsten yang sering disebut lampu wolfram. Wolfram digunakan sebagai lampu pada spektrofotometri tidak lepas dari sifatnya yang memiliki titikdidih sangat tinggi (5930oC).



Absorbansi
blanko
 0,008

0,007

 0,001

0,002

0,006

0,009

0,005

0,001

0,001

0,009

0,008

0,009

pengenceran
absorbansi
0,00
0,06
0,25
0,61
0,50
0,198
1,00
0,296
1,50
0,932
2,00
0,460
2,50
0,656
3,00
0,694
4,00
1,025
5,00
1,160
X
y
X2
Y2
X.Y
0,0
0,06
0
3,6x10-3
0
0,25
0,61
0,0625
0,3721
0,1525
0,50
0,198
0,25
0,0392
0,099
1,00
0,296
1
0,0876
0,296
1,50
0,992
2,25
0,9841
1,488
2,00
0,460
4
0,2116
0,92
2,50
0,656
6,25
0,4303
1,64
3,00
0,694
9
0,4816
2,082
4,00
1,025
16
1,0506
4,1
5,00
1,160
25
1,3456
5,8
∑ = 19,75
∑= 6,151
∑= 63,8125
∑= 5,0063
∑= 16,5775
R  =         n . ∑ (x.y)  -  (∑x) (∑y)     =           10 x 16.5775  - (19.75) (6.09)     =            45.4975     =  45.4975
x1
x1-x
(  x1-x)2
0,008
0,0082
6,724 . 10-5
0,007
0,0072

-0,001
-0,0008
6,4 . 10-7
-0,002
0,00
0,00
-0,006
-0,0058
3,36 . 10-5
0,009
0,092
8,464 . 10-5
0,005
0,0052
2,7 . 10-5
-0,001
-0,0008
6,4 . 10-5
0,001
0,0012
1,44 . 10-5
-0,009
-0,0088
7,744 . 10-5
-0,008
-0,0078
6,084 . 10-5
0,009
0,0092
8,464 . 10-5
-0,001
-0,0008
6,4 . 10-5
-0,005
-0,0048
2,3 . 10-5
-0,009
-0,0088
7,744 . 10-5
∑= -0,003

                  



Gambar 2 jenis spektronic-20 yang bekerja pada rentang panjang gelombang sinar tampak. Gambar diatas merupakan spectronic-20 lama yang sudah jarangbahkan mungkin tidak diproduksi lagi. Sedangkan gambar kedua adalah spectronic-20 terbaru.
Panjang gelombang yang digunakan untuk melakukan analisis adalah panjang gelombang dimana suatu zat memberikan penyerapan paling tinggi yang disebut panjang gelombang maksimum. Hal ini disebabkan jika pengukuran dilakukan pada panjang gelombang yang sama, maka data yang diperoleh makin akurat atau kesalahan yang muncul makin kecil.
Zat yang dapat dianalisis menggunakan spektrofotometri sinar tampak adalah zat dalam bentuk larutan dan zat tersebut harus tampak berwarna, sehingga analisis yang didasarkan pada pembentukan larutan berwarna disebut juga metode kolorimetri. Jika tidak berwarna maka larutan tersebut harus dijadikan bewarna dengan cara memberi reagent tetentu yang spesifik karena hanya bereaksi dengan spesi yang akan dianalisis.
            Linearitas menunjukkan kemampuan suatu metode analisis untuk memperoleh hasil pengujian yang sesuai dengan konsentrasi analit dalam contoh pada kisaran konsentrasi tertentu. Hal ini dapat dilakukan dengan cara membuat kurva kalibrasi dari beberapa set larutan standar yang telah diketahui konsentrasinya.
Limit deteksi adalah kepekatan analit minimum yang bisa dideteksi oleh alat pada suatu tingkat kepercayaan tertentu yang diketahui. Limit ini tergantung pada rasio perbesaran sinyal analitik terhadap ukuran fluktuasi statistical sinyal larutan blanko (yang dipengaruhi oleh galat acak). Berarti pengukuran mendekati limit deteksi akan menghasilkan sinyal analitik dengan besaran mendekati rata – rata sinyal blanko.
Kurva kalibrasi merupakan yang dibentuk oleh sinyal analitis vs kepekatan analit dengan rentang lebar  dan digunakan untuk mengetahui daerah kerja instrumen ukur. Kurva kalibrasi tidak dilinierkan, belum tentu linier dan belum tentu lengkung mengikuti fungsi persamaan tertentu. Karena itu harus dibuat apa adanya.
Dari kurva kalibrasi dapat ditentukan titik – titik limit deteksi, limit kuantitasi, dan limit linearitas. Kurva standar dibuat pada batas – batas tertentu sesuai dengan kebutuhan pengukuran analitik. Kurva ini belum tentu linier, umumnya berbentuk lengkung, namun masih boleh dilinierkan. Kurva standar mutlak di perlukan jika pengukuran itu tidak mengikuti ketentuan teoritis tertentu (seperti pada fotometri nyala atau pada spektrofotometri jika pengukuran sudah keluar dari batas pemberlakuan hukum beer).

Alat dan bahan


  • ·  Spektrofotometer cahaya tampak berkas tunggal spectronik-20 D                    
  • ·  Seperangka cuvet
  • ·  Seperangkat labu takar 100 ml 
  •     Larutan KCNS 20%
  •  - larutan standar induk Fe 100 µg/ml

Prosedur kerja
·         Pembuatan larutan standar induk 100 µg/ml Fe
Larutan standar induk  100 µg/ml Fe dapat dibuat dengan melarutkan 0,0702 gr (NH4)2Fe(SO4)2.6H2O atau 0,0864 g  (NH4)2Fe(SO4)2.12H2O tambahkan 5 ml H2SO4 4 N kemudian encerkan dengan air suling dalam 100 ml.

·         Penetapan linearitas
1.      menghidupkan spektrofotometer dengan mengoperasikan tombolpower.
Biarkan alat menstabilkan temperatur bagian dalam (warming up) selama 15 menit
2.      membersihkan cuvet dan lingkungan kerja. (perhatikan cuvet bulat selalu memiliki tanda berupa garis atau bulatan kecil ketika dimasukkan kedalam spektrofotometer)
3.      mengatur panjang gelombang ke posisi yang diperlukan (490 nm) atur saklar pilih mode absorbansi (abs) jika relativ tidak berubah dalam 2 menit alat siap digunakan.
4.      Membuat deret standar 0,00 ; 0,5; 1,00; 2,00; 3,00; 4,00; 5,00; 6,00; 7,00; 8,00; 9,00 dan 10,00 µg/ml kedalam labu takar 50 ml dengan cara dipipet masing-masing larutan standar induk 100 µg/ml sejumlah 0,00; 0,25; 0,50; 1,00; 1,50; 2,00; 2,50; 3,00; 4,00 dan 5,00 ml kemudian masing-masing masukkan kedalam labu takar 50 ml dan tambahkan 2,5 ml HNO3 1:3 dan 2,5 ml KCNS 20% tera dengan air suling sampai tanda batas homogenkan.
5.      Membaca absorbansinya pada panjang gelombang 490 nm.

·         Penetapan limit deteksi (LD)
Untuk memperkirakan limit deteksi (LD) ukur larutan blanko dengan 6-30 ulangan (disarankan tidak kurang dari 20 ulangan) tanpa melakukan zero set. Pada praktikum ini lakukan 15 kali ulangan pembacaan skala ukur dengan rentang waktu 1 menit. Perhatikan bahwa pengertian ulangan disini,seharusnya bukanlah ulangan membaca skala pada alat karena pekerjaan ini hanya dipengaruhi oleh noise instrumental.



 Ulangan disini seharusnya dimulai dengan pembuatan blanko dan mengukur absorbansinya.
1.      Membuat larutan blanko sebanyak 15 menggunakan tabung reaksi
2.      Membaca serapannya pada panjang gelombang 490 nm
Blanko pereaksi
Pipet 0,25 ml HNO3 1:3 , 0,25 ml KCNS 20% dan 9,5 ml aquadest masukkan kedalam tabung reaksi


Data pengamatan


Perhitungan
·         Linieritas


persamaan regresi :
        √{n (∑x2) – (∑x)2} {n (∑y2) – (∑y)2}
  
        √[10(63.81) – (19.75)2} {10(5.002781) - (6.09)2]
  
        √(248.0375)(12.93971)
  
         56.6527
  
     = 0.80309


Pembahasan
            praktikum ini bertujuan menetapkan limit deteksi dan dapat membedakan kurva kalibrasi dan kurva standar. Pada praktikum ini yaitu penetapan lineritas limit deteksi larutan besi (Fe) kita menetapkan kepekatan larutan fe/analit minimum yang dapat dideteksi oleh suatu alat dengan tingkat kepercayaan tertentu yang diketahui.
            Pada praktikum ini menggunakan blanko yang bertujuan untuk membuat titik nol konsentrasi dari grafik kalibrasi, larutan ini hanya berisi pengencer dalam pembuatan larutan standar. Pada praktikum  ini blanko yang digunakan sebanyak15 tabung, tetapi seharusnya menurut teori blanko tidak boleh kurang dari 20 tabung karena semakin banyak blanko yang diukur maka semakin baik karena blanko sendiri sebagai penentu zero set danbertujuan untuk melihat kepresisian atau kita dapat melihat seberapa dekat perbedaan nilai pada saat pengulangan dilakukan.
            Pada pembuatan larutan induk labu takar yang digunakan harus benar-benar bersih sehingga pada saat pembuatan larutan induk larutan berwarna bening jika larutan bewarna maka labu takar yang digunakan masih kotor. Dari larutan induk ini dibuat deret standar larutan besi ini bertujuan untuk memperlihatkan hasil larutan deret standar yang linier atau tidak. Pada penetapan kadar besi di praktikum ini menggunakan spektrofotometer uv-visible (sinar tampak) dimana sampel atau larutan harus dalam kondisi berwarna yang biasanya dalam keadaan senyawa kompleks. Dalam hal ini larutan ditambah dengan KCNS 20% yang bertujuan agar menjadi larutan kompleks [Fe(CNS)3] yang berwarna merah.
            Pada percobaan ini spektrofotometri yang digunakan tepatnya adalah spektrofotometri cahaya tampak, karena logam besi mempunyai panjang gelombang lebih dari 400 nm, sehingga jika menggunakan spektrofotometri UV, logam besi dalam sampel tidak terdeteksi. Syarat analisis menggunakan visible adalah cuplikan yang dianalisis bersfat stabil membentuk kompleks dan larutan berwarna.
            Pada praktikum ini membuat kurva kalibrasi yang dibentuk oleh sinyal analisis dengan kepekatan analit terhadap rentang lebar dan digunakan untuk menegetahui daerah kerja instrumen ukur. Pada grafik ini grafik tidak dilinierkan karena kurva kalibrasi tidak boleh dilinierkan atau ditarik garis lurus harus mengikuti titik.titik yang ada dan dari titik – titik tersebut diketahui limit deteksinya, limit kuantitas dan limit linearitasnya.
            Hubungan konsentrasi dengan nilai absorbansi suatu larutan adalah dimana semakin tinggi konsentrasi suatu sampel maka nilai absorbansi yang diperoleh juga semakin tinggi.




Kesimpulan
Pada praktikum ini diperoleh data:
·        Larutan standar yang dapat linier karena harga regresi liniernya tinggi yaitu nilai koefisien relasinya 0,8043
·        Konsentrasi larutan berbanding lurus dengan nilai absorbansinya, jadi “Semakin tinggi konsentrasi sampel maka nilai absorbansinya yang diperoleh juga semakin besar.


Daftar pustaka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar