hari ini, sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu, pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.
sebelum kamu mengeluh tidak punya apa-apa, pikirkan tentang seseorang yang harus meminta-minta dijalanan.
sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk, pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk dalam hidupnya.
sebelum kamu mengeluh tentang pasanganmu, pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberi teman hidup.
sebelum kamu mengeluh tentang nasib hidupmu, pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat.
sebelum kamu mengeluh tentang anak-anakmu, pikirkan tentang seseorang yang ingin memiliki anak tetapi dirinya mandul.
sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu yang kotor karena pembantumu lalai, pikirkan tentang orang-orang yang tinggal di jalanan dengan apa adanya.
sebelum kamu mengeluh jauhnya kamu telah menyetir, pikirkan tentang orang yang menempuh jarak sama dengan berjalan.
dan disaat kamu lelah tentang pekerjaanmu, pikirkan tentang pengangguran dan orang-orang cacat yang mencari pekerjaan sepertimu.
sebelum kamu menunjukkan jari telunjukmu untuk menyalahkan orang lain, pikirkanlah bahwa keempat jarimu yang lain menunjuk padamu dan tidak ada orang yang tidak pernah berbuat kesalahan.
jika kamu mampi untuk berfikir dahulu sebelum mengeluh, kamu akan bisa bersyukur kepada Tuhan bahwa kamu masih diberi kehidupan.
Kita bukan Malaikat yang sejak lahir telah dijanjikan Pintu Surga. Kita Manusia Biasa yang sama-sama berjuang untuk meraih Pintu Surga dan menjadi Malaikat Tanpa Sayap di dalamnya.
Jumat, Januari 31, 2014
Kamis, Januari 30, 2014
miraie
Hora ashimoto wo mite goran
kore ga anata no ayumu michi
hora mae wo mite goran
are ga anata no mirai
haha ga kureta takusan no yasashima
ai wo idaite ayumeto kurikaeshita
ano toki wa mada osanakute imi nado shiranai
donna watashi no te wo nigiri
isshoni ayundekita
yume wa itsumo sora takaku aru kara
todokanakute kawai ne dakedo oitsuzukeru no
jibun no sutori dakara koso akirametakunai
fuan ni naruto te wo nigiri
isshoni ayundekita
sono yasashisa wo toki ni wa iyagari
hanareta haha e sunao ni narezu
hora ashimoto wo mite goran
kore ga anata no ayumu michi
hora mae wo mite goran
are ga anata no mirai
sono yasashisa wo toki niwa iyagari
hanareta haha e sunao ni narezu
hora ashimoto wo mite goran
kore ga anata no ayumu michi
hora mae wo mite goran
are ga anata no mirai
hora ashimoto wo mite goran
kore ga anata no ayumu michi
hora mae wo mite goran
are ga anata no mirai
mirai e mukatte
yukkuri to aruite yuko
(Vanny Chrisma W. -Serra Vonna-)
kore ga anata no ayumu michi
hora mae wo mite goran
are ga anata no mirai
haha ga kureta takusan no yasashima
ai wo idaite ayumeto kurikaeshita
ano toki wa mada osanakute imi nado shiranai
donna watashi no te wo nigiri
isshoni ayundekita
yume wa itsumo sora takaku aru kara
todokanakute kawai ne dakedo oitsuzukeru no
jibun no sutori dakara koso akirametakunai
fuan ni naruto te wo nigiri
isshoni ayundekita
sono yasashisa wo toki ni wa iyagari
hanareta haha e sunao ni narezu
hora ashimoto wo mite goran
kore ga anata no ayumu michi
hora mae wo mite goran
are ga anata no mirai
sono yasashisa wo toki niwa iyagari
hanareta haha e sunao ni narezu
hora ashimoto wo mite goran
kore ga anata no ayumu michi
hora mae wo mite goran
are ga anata no mirai
hora ashimoto wo mite goran
kore ga anata no ayumu michi
hora mae wo mite goran
are ga anata no mirai
mirai e mukatte
yukkuri to aruite yuko
(Vanny Chrisma W. -Serra Vonna-)
angsaku (tidak) membawaku terbang
selamat datang di Sebuah Penantian !
kata orang, untuk sesuatu yang kita sayang, batas kesabaran akan bertahan lebih bagitupun dengan penantian.
hanya sebuah waktu yang kita butuhkan sampai Dia tiba. Ya, dimana rentang waktu yang tidak terdefinisi itu membuat kita lelah.
bersiaplah memasuki ruang penantian ! bersamaa jutaan raga yang tak bersukma. selamat datang pada Ruang penuh yang tak berpenghuni. kami siapkan lembaran kertas putih yang akan Kau ukir menjadi ribuan angsa putih.
entah berapa lama angsa-angsa putih ini ku jadikan, kugantung satu demi satu dengan harapan yang berbeda. kadang aku merasa lelah, tapi aku ingat kalimat keduaku dalam posting ini. 1000 angsa. 1000 waktu. 1000 harapan. dan 1000 kesabaran demi Kamu. aku takut waktuku tidak cukup sebelum datangmu, aku takun angsa-angsa ini membawaku terbang tanpamu. sabarku bertambah tiap kali menengok gadis itu. dia bernama Impian, tangannya yang terus mengukir angsa, waktu penantiannya lebih lama dari ku, angsanya 2kali lipat dariku, harapannya lebih sederhana dariku, satu per satu angsanya terbang meninggalkannya tapi harapannya utuh, tetap sederhana. yang kubutuhkan hanya 1000 angsa yang membawamu ke hadapanku tapi angsaku hanya bisa terbang membawaku darimu. tapi yang Kamu lakukan hanya menungguku, bukan menghampiriku. apa Kamu menungguku terbang bersama angsa-angsa ini tanpamu?
hah!
angsaku telah jadi, dan Kamu belum juga bersiap datang...
kata orang, untuk sesuatu yang kita sayang, batas kesabaran akan bertahan lebih bagitupun dengan penantian.
hanya sebuah waktu yang kita butuhkan sampai Dia tiba. Ya, dimana rentang waktu yang tidak terdefinisi itu membuat kita lelah.
bersiaplah memasuki ruang penantian ! bersamaa jutaan raga yang tak bersukma. selamat datang pada Ruang penuh yang tak berpenghuni. kami siapkan lembaran kertas putih yang akan Kau ukir menjadi ribuan angsa putih.
entah berapa lama angsa-angsa putih ini ku jadikan, kugantung satu demi satu dengan harapan yang berbeda. kadang aku merasa lelah, tapi aku ingat kalimat keduaku dalam posting ini. 1000 angsa. 1000 waktu. 1000 harapan. dan 1000 kesabaran demi Kamu. aku takut waktuku tidak cukup sebelum datangmu, aku takun angsa-angsa ini membawaku terbang tanpamu. sabarku bertambah tiap kali menengok gadis itu. dia bernama Impian, tangannya yang terus mengukir angsa, waktu penantiannya lebih lama dari ku, angsanya 2kali lipat dariku, harapannya lebih sederhana dariku, satu per satu angsanya terbang meninggalkannya tapi harapannya utuh, tetap sederhana. yang kubutuhkan hanya 1000 angsa yang membawamu ke hadapanku tapi angsaku hanya bisa terbang membawaku darimu. tapi yang Kamu lakukan hanya menungguku, bukan menghampiriku. apa Kamu menungguku terbang bersama angsa-angsa ini tanpamu?
hah!
angsaku telah jadi, dan Kamu belum juga bersiap datang...
Panggung kita
Hidup adalah sebuah panggung drama, dimana siapa
yang memerankan tokohnya dengan baik maka dia lah yang sukses dalam drama ini.
Sebuah filosofi yang menurutku sangat berpihak pada satu sudut. Dalam panggung
drama ada tokoh protanonis, antagonis dan sisanya sebagai tritagonis. Semua
berbanding : 1 protagonis, 1 antagonis dan 1 juta tritagonis. Sang protagonis
dan antagonis akan dengan mudah mendalami karakter yg dimainkan karena mereka
sebagai tokoh utama (sering muncul), bagaimana dengan tritagonis? Hanya muncul
sesekali dan mempunyai tujuan yang sama, yaitu menjadi juara dalam drama
tersebut.
Jadi, apakah hidup ini bisa diibaratkan
panggung drama? Jawabannya bisa,
kita semua tokoh protagonis itu. Jadikan hidup kita sebagai panggung yang
seutuhnya milik kita dan kitalah yang di nanti para penonton, penonton hanya
melihat kita.
Berontak !!
Berontak ?!!
(seperti pada postingan yang lainnya selalu dipenuhi dengan tanya ku)
Apa berontak itu tanda Dewasa?
Apa berontak itu tanda Ketidaknyamanan?
Atau apa berontak itu cara kita untuk menunjukkan keberadaan kita?
mungkin satu atau dua diantaranya benar, atau mungkin ketiganya.
oke, mari kita bercerita sebelum lampu ini padam dan doa pengantar tidur tersirat.
sayangnya saya bukan seorang psikolog yang mengerti kejiwaan seseorang, yang dapat saya tulis hanya sebuah intermezo dari suatu keadaan.
ah !
terpuruk dalam sepi kadang membuatku hilang separuh ingatan akan nurani, berdendang dengan fakta yang tertanam dalam pikirku. ya, fakta yang ku simpulkan atas kebenaranku.
kebenaran yang menurut mereka bernilai nol besar. tapi untuk apa peduli omong mereka ketika faktaku sudah benar, mereka hanya mereka dan aku selalu aku.
aku!
kata yang menurut ayahku menunjukkan keegoisanku, "seharusnya kamu menggunakan kata saya" begitu menurutnya. lalu apa bedanya?! toh, maknanya tetap sama.
sebuah intermezo yang hanya aku. (aku yang mengerti)
pilihannya hanya: Berontak atau Terinjak -> Dewasa Gadungan !
walau saya hanya penyair gadungan, tapi saya akan mendewasa sungguhan
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)
.jpg)
.jpg)