Cerita ini mengisahkan perjalanan sepasang kekasih yang
berakhir dengan duka. Si pria sebut saja Anton dan wanita sebut saja Intan. Anton
adalah seorang ang menjadi buta karena sebuah kecelakaan. Sejak ia menjadi
buta, ia merasa terasingkan di lingkungannya. Ia merasa tidak ada seorangpun
yang memeperhatikan atau menyayanginya. Hingga kemudian hadirlah Intan di
kehidupannya. Intan sangat perhatian dan sayang pada Anton. Ia tidak pernah
mempermasalahkan kebutaan Anton sebagai suatu kekurangan yang berarti. Ia sungguh-sungguh
mencontai Anton dengan tulus. Suatu hari Anton bertanya kepada Intan, “Mengapa
kamu begitu menyayangiku?”
“Hmm,
entahlah. Aku tidak pernah tahu alasan mengapa aku begitu menyayangimu, yang
aku tahu, aku benar-benar tulus menyayangimu,” jawab Intan dengan senyum
manisnya.
“Tapi
aku kan buta. Apa yang bisa aku perbuat untukmu? Apa yang bisa kuberikan
buatmu?” Tanya Anton untuk meyakinkan.
Dengan lembutnya
Intan merebahkan kepalanya di dada Anton, “Ton, aku tidak mengharapkan apapun
darimu. Buatku, kamu bisa cerita setiap hari dan menyayangiku dengan tulus itu
sudah cukup. Aku senang ketika kamu merasa senang.”
Mendengar
jawaban seperti itu, Anton merasa terharu, “Belum pernah ada orang yang begitu
menyayangi aku yang buta seperti ini,” Ucap Anton seraya memeluk tubuh gadis
yang dicintainya itu sambil membelai rambutnya yang panjang, “Intan, kalau
sampai suatu saat nanti aku bisa melihat lagi, aku pasti akan menikahimu. Karena
hanya kamulah orang yang dengan tulus menyayangiku.”
“Benarkan?”
Tanya Intan dengan raut muka ceria.
Dengan penuh
kasih saying Anton meyakinkan hati Intan, “Aku janji kalau suatu saat nanti aku
bisa melihat, PASTI aku akan menikahimu.”
Lalu sepasang
kekasih itu semakinerat berpelukan, dengan bayangan indah masing-masing tentang
masa depan yang indah. Tentang pernikahan yang dinantikan dengan penuh
kebahagiaan. Hari-haripun berjalan. Sepasang kekasih inipun semakin erat dan
saling menyayangi. Sampai saat yang dinantikan telah tiba, Anton melakukan
operasi cangkok mata dan berhasil. Ia mampu melihat lagi. Ia pun tidak sabar
untuk menemui kekasihnya Intan. Pergilah ia
mencari Intan, sampai ia berhasil menemukannya. Namun, alangkah terkejutnya
ia mengetahui bahwa intan adalah seorang gadis buta. Ia tak bisa menerimanya. Ia
pun menolak Intan. Anton telah lupa akan semua janjinya.
Melihat
kenyataan itu hati Intan menjadi hancur, hatinya menangis, sambil meraba ia
menghampiri kekasihnya Anton, “Bukannya kamu telah berjanji akan menikah
denganku?” Tanya Intan mengingatkan kekasihnya kembali.
Tapi,
Anton menjawabnya dengan ketus dan bimbang, “Emm, ya memang aku pernah berkata
begitu, tapi tidak dengan keadaanmu yang seperti ini. Maaf Intan, aku tidak
bisa menikah dengan gadis buta sepertimu.
Keinginanku untuk sembuh agar aku bisa menjadi orang normal kembali. Jika
orang-orang tahu bahwa istriku nanti adalah orang buta, lalu apa kata mereka
nanti?”
Anton
pun pergi meninggalkan Intan yang dirundung kedukaan dan kekecewaan akan
kenyataan yang telah menimpa dirinya. Tak kuat menerima perlakuan Anton yang
telah menghianatinya, ia bertekat mengakhiri hidupnya dengan menyayat urat
nadinya dengan silet.
Saat Intan
ditemukan meninggal, ada sepucuk surat digenggamannya yang ditunjukan untuk
kekasihnya Anton.
Dear Anton,
Memang tidak banyak yang bisa
kuberikaan padamu, tidak banyak yang bisa kulakukan untukmu. Namun, aku
sungguh-sungguh tulus menyayangimu.
Semoga kedua mataku itu bisa
berguna bagimu, bisa membawakan terang dan keceriaan dalam hidupmu kembali….
Membaca
surat itu, Anton merasa sangat menyesal. Dia tidak tahu bahwa orang yang dengan rela memberikan mata untuk
dirinya adalah kekasih yang selama ini mencintainya, menyayanginya dan
menjaganya dengan tulus. Namun, penyesalan hanya tinggal penyesalan. Intan yang
telah rela berkorban untuk dirinya pun telah pergi. Yang tersisa hanyalah
perasaan bersalah yang akan tersimpan sampai mati.
Catatan:
Kadang kala kita tidak boleh melihat sesuatu hanya dengan
mata, melainkan juga dengan hati kita. Mata itu sa menipu, namun hati tidak. Kata
hati selalu merupakan kejujuran terdalam dalm hidup manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar