Selamat malam wahai penjaga mimpi,
Dan selamat malam wahai pemilik mimpi,
Sebelum terlelap aku panjatkan doa
Doa untuk dirimu yang kian menua
Menua bukan bersamaku tapi dengannya
Dengannya yang membuatmu bahagia
Bahagia hingga seluruh dirimu merona
Aku bukan sendiri,
Aku hanya merutuki
Kala hati yang meringis sebanding dengan raga yang berpesta
Cerita sang mimpi selalu, membuatku ingin menangis gila
Atas keindahannya yang seluas fana
Adakah cinta masih bisa bercerita?
Seperti pintu yang tengah terbuka,
Sepoi angin mendorong raganya,
Akankah terlena oleh angin yang mendorong hasratnya?
Tapi aku bukan si pintu atau angin itu,
Aku gadis yang terpaku dibalik pintu
Menunggu pintu terbuka atau terkatup
Biarlah kehendak angin yang meraup
Ceroboh!
Umpat angin yang mendorong pintu terhalang kakiku
Ada tanganku untuk membuka pintu dan membuat angin masuk
Kaki yang terlalu besar membuat pintu terkatup separuh
Angin sepoi kuat mulai merajuk
Hampir lelah ia berusaha membuka pintu
Karena kaki besarku tidak hanya menghalang tapi menyakiti diriku
Bukan aku yang sendirian
Tapi aku yang membuat kesendirian
Bahagiamu adalah harapanku untuk mendampingimu
Bahagiaku adalah ada untuk mendampingimu
Cerita cinta yang hanya sesaat membuat pintu rapuh tetap kuat tanpa kita koyak
Selamat malam dan selamat bermimpi wahai pemilik mimpiku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar